JALAN ISLAM YANG TERBUKA

>> Minggu, 04 Oktober 2009

Salah satu slogan yang paling khas dari zaman kita ini adalah "menaklukkan ruang". Alat-alat perhubungan telah dikembangkan jauh melampaui impian generasi-generasi sebelumnya; dan alat-alat baru ini telah menggerakkan peralihan barang-barang yang jauh lebih cepat dan jauh lebih luas daripada yang pernah dikenal dalam sejarah ummat manusia sebelumnya. Perkembangan ini menyebabkan saling bergantungnya bangsa-bangsa dalam bidang perekonomian. Tidak ada satu bangsa atau satu golongan sekarang yang dapat bertahan untuk tetap terpencil dari bagian dunia lainnya. Perkembangan ekonomi tidak lagi terbatas secara lokal; sifatnya telah menjadi seluas dunia. Sekurang-kurangnya dalam kecenderungannya mengabaikan batas-batas politik dan jarak-jarak geografis. Ini membawa dengan sendirinya --dan boleh jadi ini bahkan lebih penting daripada, segi material masalah itu-- keperluan yang terus bertambah dari suatu penyaluran bukan saja barang-barang dagangan tetapi juga pikiran dan nilai-nilai kultural. Tetapi sementara kedua kekuatan itu, kekuatan ekonomik dan kultural, sering berjalan bergandengan, ada perbedaan dalam hukum dinamikanya. Hukum-hukum dasar ekonomi menuntut bahwa pertukaran barang antara bangsa-bangsa berlaku timbal balik; ini berarti bahwa tidak ada satu bangsa yang dapat berlaku sebagai pembeli saja sedang bangsa-bangsa lain tetap sebagai penjual; lambat laun masing-masing dari bangsa itu harus melakukan dua peranan sekaligus, saling memberi dan menerima, baik secara langsung atau melalui perantaraan pelaku-pelaku lain dalam panggung kekuatan-kekuatan ekonomik. Tetapi dalam bidang kultural hukum besi pertukaran ini tidak mesti berlaku, sekurang-kurangnya tidak selalu tampak; ini berarti bahwa penyaluran idea-idea dan pengaruh-pengaruh kultural tidak mesti berdasar di atas prinsip memberi dan menerima. Adalah berhubungan dengan sifat manusia bahwa bangsa-bangsa dan peradaban yang secara politik dan ekonomi lebih kuat menjadi suatu penarik yang kuat atas golongan yang lebih lemah atau kurang aktif dan mempengaruhinya dalam bidang intelektual dan kemasyarakatan, sedang yang kuat itu sendiri tidak terpengaruh. Demikianlah keadaan sekarang mengenai perhubungan antara Barat dan dunia Islam.

Dari sudut pandangan peninjau historik pengaruh yang kuat dan sepihak yang dilakukan peradaban Barat atas dunia Islam pada saat ini sama sekali tidak mengherankan, karena ini merupakan hasil suatu proses sejarah yang panjang; untuk itu kami berikan beberapa analogi di bagian lain. Tetapi sementara ahli sejarah itu mungkin puas sekedar itu, bagi sebagian kita masalah ini tetap tidak terpecahkan. Bagi kita yang bukan hanya sekedar penonton-penonton yang tertarik tetapi merupakan pelaku-pelaku yang sebenarnya dari drama ini, bagi kita yang memandang diri kita sebagai pengikut-pengikut Nabi Muhammad saw., masalah ini sebenarnya mulai dari sini. Kita percaya bahwa Islam, tidak seperti agama-agama lain, Islam bukan hanya sikap spiritual, daripada jiwa yang dapat diterapkan pada berbagai-bagai bingkai kultural yang berbeda-beda, tetapi merupakan satu orbit yang lengkap dan satu sistem kemasyarakatan dengan pandangan-pandangan yang mempunyai batasan yang terang. Apabila, seperti halnya sekarang, suatu peradaban asing meluaskan pengaruhnya ke tengah-tengah kita dan menyebabkan perubahan-perubahan tertentu dalam tubuh kultural kita sendiri, kita wajib menerangkan pada diri kita apakah pengaruh asing itu berjalan ke arah kemungkinan-kemungkinan kultural kita sendiri atau bertentangan; apakah pengaruh asing itu berperan sebagai serum yang menguatkan tubuh kultur Islam atau sebagai racun.

Jawaban atas pertanyaan ini hanya dapat diperoleh melalui analisa. Kita harus menemukan kekuatan-kekuatan dasar dari kedua peradaban ini --peradaban Islam dan Barat modern-- dan kemudian menyelidiki sejauh mana kerja sama antara keduanya dapat dilaksanakan. Dan karena peradaban Islam pada hakekatnya adalah peradaban agama, pertama-tama kita harus berusaha memberikan definisi pengaruh umum agama dalam kehidupan manusia.

Apa yang kita namakan "sikap agamawi" adalah akibat alami dari konstitusi intelektual dan biologik. Manusia tidak sanggup menerangkan pada dirinya sendiri rahasia hidup, rahasia lahir dan mati, rahasia ketidakterbatasan dan keabadian. Pemikirannya terhenti di hadapan dinding-dinding yang tak tertembus. Oleh karena itu ia hanya dapat melakukan dua hal. Yang satu adalah meninggalkan segala usaha untuk memahami hidup secara keseluruhan. Dalam hal ini manusia akan bersandar atas bukti pengalaman-pengalaman lahir saja dan akan membatasi kesimpulan-kesimpulannya pada bidangnya. Dengan demikian ia hanya sanggup mengerti fragmen-fragmen tunggal daripada hidup, yang mungkin bertambah jumlahnya dan bertambah jelasnya secepat atau selambat pertambahan pengetahuan manusia tentang alam, tetapi bagaimanapun juga selalu hanya akan tetap tinggal fragmen-fragmen --cakupan dari keseluruhannya tetap di luar perlengkapan metodik pemikiran manusia. Inilah jalan yang ditempuh ilmu-ilmu pengetahuan alam. Kemungkinan lainnya --yang mungkin bergandengan dengan jalan ilmiah-- adalah jalan agama. Agama membimbing manusia dengan jalan pengalaman batin, kebanyakan secara intuitif, kepada penerimaan keterangan yang seragam tentang hidup pada umumnya atas dasar pandangan bahwa ada satu Kuasa Kreatif yang maha tinggi yang mengatur alam semesta menurut suatu rencana sebelumnya di atas dan di luar kesanggupan pengertian manusia. Seperti baru dikatakan, konsepsi ini tidak perlu menjauhkan manusia dari penyelidikan tentang fakta-fakta dan fragmen-fragmen hidup seperti yang dapat disaksikan dengan peninjauan lahir. Tidak mesti ada suatu antagonisme antara pengertian lahir yang ilmiah dan penerimaan pengertian batin yang religius. Tetapi yang disebut penerimaan pengertian religius dalam kenyataannya adalah satu-satunya kemungkinan pemikiran untuk memahami seluruh hidup sebagai kesatuan esensi dan kekuatan dasar; singkatnya, sebagai satu keseluruhan yang berimbang, yang harmonis. Kata "harmonis" walaupun sudah sangat sering disalahgunakan, adalah sangat penting dalam hubungan ini karena ia mencakup sikap yang bersangkutan dalam manusia sendiri. Orang religius tahu bahwa segala apa yang terjadi padanya dan dalam dirinya tidak pernah dapat merupakan hasil permainan buta dari kekuatan-kekuatan tanpa kesadaran-kesadaran dan tujuan; ia percaya bahwa itu datang dari kehendak Tuhan yang sadar semata-mata dan oleh karena itu secara organik terpadu dengan rencana semesta alam. Dalam jalan ini manusia diberi kesanggupan untuk memecahkan pertentangan pahit antara wujud manusia --self-- dan dunia obyektif tentang fakta-fakta dan wajah-wajah lahir yang disebut alam. Makhluk manusia dengan segala mekanisma jiwanya yang rumit, dengan segala hasrat-hasrat dan ketakutan-ketakutannya, perasaan-perasaan dan ketidakpastian spekulatifnya, melihat dirinya dihadapkan pada suatu alam di mana kemurahan dan kekejaman, bahaya dan ketenteraman, tercampur aduk dalam satu cara yang dahsyat yang tak teruraikan dan seperti bekerja atas garis-garis yang tampaknya berbeda dari metoda-metoda dan struktur pikiran manusia. Falsafah intelektual murni atau ilmu pengetahuan eksperimental melulu tidak pernah sanggup memecahkan konflik ini. Inilah justeru titik di mana agama melangkah masuk.

Dalam sinar persepsi religius dan pengalaman, wujud manusia yang sadar-diri dan alam yang bisu yang tampaknya tampaknya tidak bertanggungjawab dibawa ke dalam satu hubungan harmonis spiritual: karena keduanya, kesadaran individu manusia dan alam yang melingkungi dia serta yang ada dalam dirinya, tidaklah lain daripada manifestasi-manifestasi yang setara, kalaupun berbeda, dari Kehendak Kreatif yang Satu dan sama. Maka manfaat besar yang diberikan agama seperti itu atas manusia adalah penyadaran bahwa ia selalu, dan tidak pernah dapat terlepas, dari satu kesatuan yang terencana baik dari gerak abadi Pencipta: suatu bagian tertentu dalam organisme yang tidak terbatas dari bagan Rencana Universal. Konsekuensi psikologik dari konsepsi ini adalah suatu perasaan yang dalam dari kepastian spiritual --yang berimbang antara harap dan takut yang membedakan manusia religius yang positif -apapun agamanya- dari manusia tidak religius.

Posisi dasar ini sama-sama terdapat pada seluruh agama-agama besar, apapun doktrin-doktrin spesifiknya; dan yang sama pula bagi semua agama-agama besar itu adalah panggilan moral kepada manusia untuk menyerahkan dirinya kepada Kehendak Tuhan yang nyata itu. Tetapi Islam, dan hanya Islam saja, melampaui penerangan dan dorongan teoritik ini. Islam tidak saja mengajarkan kepada kita bahwa hidup pada keseluruhannya adalah satu dalam hakekatnya --karena berasal dari Tuhan Yang Maha Esa-- tetapi Islam pun menunjukkan kepada kita jalan praktis betapa setiap orang dari kita dapat berkembang, dalam batas-batas individualnya, kesatuan pikiran dan tindakan, baik dalam wujudnya maupun dalam kesadarannya. Untuk mencapai tujuan hidup yang tertinggi itu, dalam Islam, manusia tidak dipaksa untuk menyangkali dunia; tidak ada kekerasan dituntut untuk membuka pintu rahasia menuju pemurnian spiritual, tidak ada penekanan atas pikiran untuk percaya pada dogma-dogma yang tak dapat dimengerti untuk menjamin penyelamatan. Hal-hal semacam itu sama sekali asing bagi Islam karena Islam bukanlah doktrin mistik dan bukan pula falsafah. Islam adalah program hidup sesuai dengan hukum-hukum alam yang telah ditetapkan Allah atas penciptaan-Nya; dan hasil capaiannya yang paling tinggi ialah koordinasi yang sempurna daripada aspek-aspek spiritual dan material kehidupan insani. Dalam ajaran-ajaran Islam kedua aspek ini bukan saja "dipertemukan" satu sama lain dalam pengertian tidak meninggalkan konflik yang menempel antara kehidupan jasadi dan moral manusia, tetapi kenyataan dari kerjasamanya dan paduannya yang tak dapat dipisahkan ditekankan sebagai basis hidup yang alami.

Ini, saya pikir, adalah hikmah dari bentuk shalat yang khas dalam Islam, dimana konsentrasi spiritual dan gerak jasmani tertentu saling terkordinasi. Kritikus-kritikus yang bersifat bermusuhan terhadap Islam selalu menilik cara shalat itu sebagai bukti atas tuduhan mereka bahwa Islam adalah agama formalisma dan lahiriah. Dan dalam kenyataannya ummat agama lain, yang memisahkan "rohani" dan "jasadi" hampir dalam cara yang sama sebagai tukang susu memisahkan krim dari susu, tidak mudah memahami bahwa dalam susu Islam asli, yang tidak dicedok, kedua unsur itu walaupun berbeda dalam konstitusinya, namun sama-sama hidup secara harmonis dan sama menyatakan dirinya. Dalam kata-kata lain shalat dalam Islam terdiri dari konsentrasi mental dan gerak-gerik jasadi karena kehidupan insani sendiri adalah paduan semacam itu, dan karena kita diharapkan untuk mendekati Allah melalui keseluruhan dari segala karunia yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita.

Suatu gambaran lebih lanjut dari sikap ini dapat dilihat dalam ibadah thawaf, upacara mengelilingi Ka'bah di Makkah. Karena upacara itu termasuk dalam upacara wajib bagi setiap orang yang menjalankan ibadah haji ke kota suci itu tujuh kali mengelilingi Ka'bah, dan karena pelaksanaan ibadah ini adalah satu dari ketiga pokok terpenting dari ibadah haji, maka patutlah kita bertanya: Apa hikmahnya ini? Apakah perlu kita menyatakan pengabdian kita dalam cara formal semacam itu?

Jawabannya sangat jelas. Apabila kita bergerak mengikuti satu lingkaran, maka dengan begitu kita menempatkan obyek itu sebagai titik pusat tindakan kita. Ka'bah, ke mana setiap Muslim menghadapkan mukanya setiap shalat, melambangkan keesaan Tuhan. Gerak jasadi orang-orang yang menjalankan ibadah haji dalam thawaf itu melambangkan aktivitas hidup manusia, bukan saja pikiran-pikiran pengabdian kita tetapi juga kehidupan praktek kita, tindakan dan usaha-usaha kita, harus mengandung idea tentang Allah dan keesaan-Nya sebagai pusatnya --sesuai dengan kata-kata al-Qur'an:

"Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (Qur'an Suci, 51: 56).

Jadi konsepsi-konsepsi ibadah dalam Islam berbeda dari konsepsi agama-agama lain. Di sini konsepsi ibadah itu tidak dibatasi pada praktek-praktek yang bersifat ibadah murni seperti shalat, puasa, tetapi juga mencakup seluruh praktek kehidupan manusia. Apabila tujuan hidup kita adalah mengabdi kepada Allah maka perlulah kita memandang hidup ini, dalam keseluruhan aspek-aspeknya, sebagai satu tanggung jawab moral yang kompleks. Maka seluruh tindakan kita, bahkan yang tampaknya kecil, harus dilakukan sebagai tindakan pengabdian, yaitu dilakukan dengan sadar sebagai bagian dari rencana universal Tuhan. Hal-hal semacam ini merupakan suatu ideal jauh bagi manusia yang berkesanggupan biasa; tetapi bukankah tujuan agama adalah memberikan ideal-ideal kedalam kehidupan nyata?

Posisi Islam dalam pandangan ini tidak mungkin keliru. Islam pertama-tama mengajarkan kepada kita bahwa pengabdian permanen kepada Allah dalam segala tindakan yang aneka ragam dari kehidupan manusia adalah maksud sesungguhnya daripada hidup ini; dan kedua, bahwa maksud ini tetap tidak akan mungkin tercapai selama kita membagi hidup kita dalam dua bagian, yaitu yang spiritual dan material: keduanya harus terpadu bersama-sama dalam kesadaran dan tindakan kita, kedalam satu keseluruhannya yang harmonis. Pengertian kita tentang keesaan Allah harus direfleksikan kedalam perjuangan kita ke arah kordinasi dan penyeragaman dari berbagai aspek kehidupan kita.

Suatu konsekuensi logis dari sikap ini adalah perbedaan selanjutnya antara Islam dan semua sistem agama yang dikenal lainnya. Ini akan diperoleh dalam kenyataan bahwa Islam, sebagai satu ajaran, menjamin untuk memberi batasan bukan saja hubungan metafisik antara manusia dan Penciptanya tetapi juga --dan dengan tekanan yang hampir tidak kurang kuatnya-- hubungan duniawi antara individual dan lingkungan masyarakatnya. Kehidupan duniawi tidaklah hanya dianggap sebagai kulit kerang kosong, sebagai bayangan tidak berarti dari hari akhirat yang akan datang, tetapi sebagai satu keseluruhan positif yang padu. Allah sendiri adalah Satu dan Esa, bukan saja dalam hakekat tetapi juga dalam tujuan; dan oleh karena itu ciptaan-ciptaan-Nya adalah satu kesatuan, mungkin dalam hakekatnya, tetapi pasti dalam tujuannya.

Ibadah kepada Allah dalam pengertian yang luas yang diterangkan di atas, menurut Islam, memberi arti hidup manusia. Dan konsepsi ini saja yang menunjukkan kepada kita kemungkinan bagi manusia mencapai kesempurnaan dalam kehidupan duniawi manusia individual. Dari segala sistem agama hanya Islam saja yang menyatakan bahwa kesempurnaan individual dapat dicapai dalam kehidupan duniawi kita. Islam tidak menangguhkan menepati ini hingga sesudah penindasan apa yang disebut hasrat-hasrat 'jasadi' seperti ajaran Kristen; tidak pula Islam menjanjikan suatu rangkaian belenggu reinkarnasi atas tingkat yang terus menaik seperti dalam Hinduisme; tidak pula Islam setuju dengan ajaran Budhisme yang mengajarkan bahwa penyempurnaan dan penyelamatan hanya dapat dicapai melalui pemusnahan wujud individual dan hubungan emosionalnya dengan dunia. Tidak, Islam memberi tekanan dalam penegasan bahwa manusia dapat mencapai kesempurnaan dalam kehidupan duniawi individualnya dan dengan membuat kegunaan penuh dari segala kemungkinan-kemungkinan duniawi dari hidupnya.

Untuk menjauhkan salah pengertian, kata "sempurna" harus diberi batasan dalam pengertian yang dipergunakan di sini. Sejauh berhubungan dengan makhluk manusia, yang terbatas secara biologik, kita tidak dapat memandang idea kesempurnaan yang "mutlak" karena segala yang mutlak hanya termasuk milik sifat Allah saja. Kesempurnaan manusia dalam pengertian psikologik dan moral harus mengandung arti relatif dan individual. "Sempurna" di sini tidak berarti memiliki segala sifat-sifat yang dapat dibayangkan, bahkan tidak pula mengandung arti pengambilan secara progresif akan sifat-sifat baru dari luar, tetapi semata-mata pengembangan sifat-sifat dari individual yang telah ada dan positif dalam cara demikian rupa sehingga membangkitkan kekuatan-kekuatan yang ada dalam dirinya yang apabila tidak demikian akan tetap tidur. Berhubung dengan aneka ragam yang alami dari gejala-gejala hidup, sifat-sifat asli manusia berbeda dalam setiap diri individual. Oleh karena itu maka akan keliru apabila kita menganggp bahwa seluruh makhluk manusia harus atau bahkan dapat berjuang ke arah tipe kesempurnaan yang satu dan sama --tepat sebagaimana akan keliru untuk mengharapkan seekor kuda pacuan sempurna dan seekor kuda beban sempurna akan memiliki sifat-sifat yang sama. Keduanya mungkin sempurna dan memuaskan secara individual, tetapi keduanya akan berbeda, karena karakter aslinya berbeda.

Demikian pula halnya dengan makhluk manusia. Apabila kesempurnaan harus diberi ukuran dalam tipe tertentu --seperti Kristen memberi ukuran dalam tipe pertapa suci-- manusia akan harus menyerah atau mengubah atau menindas perbedaan-perbedaan individual mereka. Tetapi ini jelas akan memperkosa hukum Ilahi tentang aneka ragam individual yang menempati segala kehidupan di atas muka bumi ini. Oleh karena itu Islam, yang bukan agama penindasan, memberikan kepada manusia, suatu wilayah yang sangat luas dalam kehidupan perorangan dan kemasyarakatan, sehingga sifat-sifat yang aneka ragam itu, tabiat-tabiat dan kecenderungan psikologik dari individu-individu yang berbeda-beda akan mendapatkan jalannya ke arah perkembangan positif sesuai dengan pembawaan individualnya masing-masing. Dengan demikian seseorang mungkin bersifat pertapa, atau ia boleh menikmati ukuran penuh dari kemungkinan-kemungkinan penyaluran nafsunya dalam batas-batas yang dibenarkan oleh hukum; ia mungkin seorang pengembara di padang-padang gurun tanpa bekal makanan untuk hari esok atau seorang kaya yang dikelilingi harta kekayaannya. Selama ia secara jujur dan sadar patuh pada hukum-hukum perintah dan larangan Allah, ia bebas membentuk hidup individualnya ke arah bentuk apa yang diarahkan oleh alam insaninya. Kewajibannya adalah membuat dirinya sebaik mungkin sehingga ia dapat menghormati anugerah hidup yang dikaruniakan Penciptanya kepadanya, dan menolong hidup sesamanya dengan jalan perkembangan dirinya sendiri, dalam usaha-usaha spiritual, sosial dan material mereka. Tentang bentuk dari kehidupan individualnya sekali-kali tidak dipastikan oleh suatu ukuran. Ia bebas membuat pilihannya dari antara segala kemungkinan-kemungkinan halal yang tidak terbatas yang terbuka baginya.

Basis dari "liberalisme" ini dalam Islam terdapat dalam konsepsi bahwa alam insani asli pada hakekatnya baik, berlawanan dengan idea Kristen bahwa manusia dilahirkan dengan dosa, atau ajaran Hindu bahwa manusia asalnya rendah dan tidak suci dan terpaksa dengan pahitnya melalui rantai transmigrasi-transmigrasi reinkarnasi yang panjang menuju tujuan terakhir kesempurnaan, ajaran Islam menegaskan bahwa manusia dilahirkan suci dan --dalam pengertian yang diterangkan di atas-- sempurna secara potensial. Ini dikatakan dalam al-Qur'an:

"Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dalam struktur yang sebaik-baiknya,"

tetapi dalam nafas yang sama ayat itu dilanjutkan:

"dan kemudian kami turunkan dia pada kerendahan yang serendah-rendahnya; kecuali mereka yang beriman dan beramal shaleh …" (Qur'an Suci, 95: 4-6).

Dalam ayat ini dilahirkan doktrin bahwa manusia pada aslinya baik dan suci dan dinyatakan pula bahwa ketiadaan iman kepada Allah dan tidak adanya amal baik akan menghancurkan kesempurnaan aslinya. Sebaliknya manusia dapat mempertahankan atau memperoleh lagi kesempurnaan asli individual itu apabila ia menyadari dengan insaf akan keesaan Allah dan berserah diri pada Hukum-hukum Ilahi. Jadi menurut Islam kejahatan itu sama sekali bukan hakiki atau asli; kejahatan itu adalah akibat yang diperoleh dari kehidupan manusia kemudiannya, dan disebabkan oleh penyalahgunaan sifat-sifat asli dan positif yang telah dikaruniakan Allah pada setiap individu makhluk manusia. Sifat-sifat itu adalah, seperti telah dikatakan lebih dahulu, berbeda dalam diri setiap diri individu tetapi selalu sempurna secara potensial dalam diri sendiri; dan perkembangannya yang penuh adalah mungkin dalam jangka waktu kehidupan manusia individu di muka bumi ini. Kita memang membenarkan bahwa kehidupan sesudah mati, berhubung dengan kondisinya yang diubah tentang perasaan-perasaan kesadaran, akan memberikan pada kita sifat-sifat dan kesanggupan-kesanggupan lain yang sama sekali baru yang masih memungkinkan suatu kemajuan baru bagi jiwa manusia, tetapi ini hanya menyangkut kita dalam kehidupan kita di hari kemudian saja. Dalam kehidupan di dunia ini juga, ajaran Islam secara definitifif menegaskan, bahwa kita --setiap orang dari kita-- dapat mencapai ukuran kesempurnaan yang penuh dengan jalan mengembangkan sifat-sifat yang secara positif memang telah ada, yang membentuk individualitas-individualitas.

Dari segala agama hanya Islam yang memberikan kemungkinan bagi manusia untuk menikmati ukuran sepenuhnya kehidupan duniawinya tanpa sekejap pun meninggalkan tujuan spiritualnya. Betapa berbeda hal ini dari konsepsi Kristen. Menurut konsepsi Kristen, manusia jungkir balik dalam belenggu dosa warisan yang dilakukan oleh Adam dan Hawa dan oleh karena itu seluruh hidup dianggap --sekurang-kurangnya dalam teori dogmatik-- sebagai lembah sengsara dan kesedihan. Hidup merupakan medan pertempuran dua kekuatan: kejahatan yang diwakili oleh setan, dan kebaikan yang diwakili oleh Yesus Kristus. Setan berusaha dengan segala godaan-godaan jasadi untuk menghalang kemajuan jiwa menuju terang abadi; jiwa adalah milik Kristus sedang jasad adalah lapangan tempat pengaruh setan. Orang dapat menerangkan dengan cara lain: dunia materi pada hakekatnya adalah jahat sedang dunia ruh adalah Ilahi dan baik. Segala sesuatu dalam alam insani yang material, --atau "carnal", seperti istilah yang lebih disukai dalam theologia Kristen-- adalah hasil langsung dari penyerahan Adam kepada nasihat Pangeran Gelap dan Jasadi dari neraka. Oleh karena itu maka untuk memperoleh keselamatannya manusia harus memalingkan hatinya dari dunia daging ini ke arah hari kemudian, dunia spiritual, dimana "dosa manusia" ditebus oleh pengorbanan Kristus di tiang salib.

Sekalipun umpamanya dogma ini tidak ditaati dalam prakteknya --dan tidak pernah dipraktekkan-- adanya ajaran ini saja cenderung untuk menghasilkan suatu perasaan permanen dari kesadaran buruk dalam diri orang yang punya kecenderungan religius. Ia dilemparkan kedalam suatu gelanggang perjuangan antara panggilan penting untuk meninggalkan dunia dan desakan alami dari hatinya untuk menikmati hidup ini. Idea tentang dosa yang tak terelakkan karena diwariskan, dan tentang penebusan dosa --yang tidak dapat dipahami oleh pikiran umum-- melalui penderitaan Yesus di tiang salib, menegakkan tembok pemisah antara hasrat spiritual manusia dan hasratnya yang sejati untuk hidup.

Dalam Islam kita tidak mengenal dosa warisan; kita memandang hal itu tidak sesuai dengan idea keadilan Allah. Allah tidak membuat seorang anak bertanggungjawab atas perbuatan-perbuatan ayahnya dan betapa Ia akan membuat generasi-generasi ummat manusia yang tak terhitung jumlahnya akan bertanggungjawab atas dosa karena pelanggaran yang dilakukan oleh nenek moyangnya yang jauh? Tidaklah diragukan bahwa tidak mungkin menyusun keterangan falsafah tentang anggapan aneh ini, tetapi bagi pikiran yang menjangkau jauh hal itu akan tetap sebagai hal yang dibuat-buat dan tidak akan memuaskan seperti konsepsi tentang Tritunggal itu sendiri. Dan karena tidak ada dosa warisan maka tidak ada pula penebusan dosa universal dalam ajaran Islam. Setiap Muslim adalah penebus dosanya sendiri; ia memiliki segala kemungkinan-kemungkinan sukses dan kegagalan spiritual dalam dirinya sendiri.

Dikatakan dalam al-Qur'an tentang keperibadian manusia:

"Bagi dia apa yang telah diterimanya, dan terhadap dia kejahatan yang dilakukannya." (Qur'an Suci, 2: 286)

Ayat lainnya mengatakan:

"Tidak ada yang akan diperhitungkan bagi manusia, selain yang telah diusahakannya." (Qur'an Suci, 53:39).

Tetapi apabila Islam tidak memiliki aspek hidup yang suram seperti yang dilahirkan oleh Kristen, betapapun juga Islam tidak mengajarkan kepada kita untuk memberikan pada kehidupan duniawi nilai yang dilebih-lebihkan seperti yang diberikan oleh peradaban Barat modern. Sementara pandangan Kristen mengandung pengertian bahwa kehidupan duniawi adalah buruk, Barat modern --seperti dibedakan dari Kristen-- memuja hidup dalam cara tepat sama seperti si rakus memuja makannya; ia menelannya tetapi ia tidak punya respek terhadapnya. Sebaliknya Islam memandang kehidupan duniawi dengan tenang dan dengan respek. Ia tidak memujanya, tetapi memandangnya sebagai suatu tangga dalam perjalanan menuju kehidupan yang lebih tinggi. Tetapi justru karena ia adalah tangga, dan tangga yang perlu pula, manusia tidak berhak untuk menghinanya atau bahkan menganggap remeh nilai kehidupan duniawinya. Perjalanan kita melintasi dunia ini adalah satu bagian yang pasti dan positif dalam rencana Allah. Oleh karena itu kehidupan manusia bernilai sangat tinggi sekali; tetapi ia tidak boleh melupakan bahwa itu hanyalah nilai instrumental, sebagai alat saja. Bagi Islam tidak ada tempat bagi optimisme materialistik Barat modern yang mengatakan "Kerajaanku hanya di dunia ini saja" --tidak pula ada tempat bagi sikap benci pada hidup seperti ucapan Kristen: "Kerajaanku bukanlah daripada dunia ini." Islam menempuh jalan tengah; al-Qur'an mengajarkan manusia berdoa:

"Tuhan kami, berikanlah kiranya kepada kami kebaikan di dunia ini dan kebaikan di akhirat." (Quran Suci, 2:201)

Demikianlah penilaian penuh tentang dunia ini dan kebaikannya sama sekali bukan merupakan halangan bagi usaha-usaha spiritual kita. Harta benda dikehendaki tetapi bukan merupakan tujuan itu sendiri. Tujuan dari segala kegiatan praktek kita selalu harus berupa penciptaan dan pemeliharaan syarat-syarat perorangan dan sosial yang dapat bermanfaat bagi perkembangan tingkat moral dalam diri manusia. Sesuai dengan prinsip ini Islam membimbing manusia ke arah kesadaran tanggung jawab moral dalam segala hal yang dilakukannya, besar ataupun kecil. Perintah "Injil" yang terkenal: "Berikan kepada Kaisar kepunyaan Kaisar dan berikan kepada Tuhan kepunyaan Tuhan" tidak ada tempatnya dalam struktur agama Islam, karena Islam tidak mengakui adanya konflik antara tuntutan-tuntutan moral dalam kehidupan kita. Dalam segala hal hanya ada satu pilihan: pilihan antara benar dan salah, tidak ada lain. Dari situlah datangnya desakan kuat atas perbuatan sebagai satu unsur moralitas yang tidak dapat dilepaskan.

Setiap individu Muslim harus memandang dirinya secara pribadi bertanggungjawab atas segala sesuatu yang terjadi di sekitar dia dan berjuang untuk menegakkan kebenaran dan memberantas kejahatan pada setiap saat dan pada setiap arah. Dasar atas sikap ini terdapat dalam ayat al-Qur'an:

"Kamu adalah ummat terbaik yang telah dilahirkan kepada ummat manusia: kamu menganjurkan kebenaran dan mencegah kemungkaran, dan kamu beriman kepada Allah." (Qur'an Suci, 3:110).

Inilah pembenaran moral terhadap peperangan Islam, suatu pembenaran terhadap penaklukan-penaklukan Islam dan tentang apa yang sering ditunjukkan sebagai "imperialisme". Islam adalah "imperialisme" apabila anda akan memaksakan istilah itu; tetapi "imperialisme" semacam ini tidak terdorong oleh cinta akan kekuasaan, tidak ada hubungan dengan egoisme ekonomi dan egoisme nasional, tidak ada sangkut paut dengan keserakahan untuk memperbesar kesenangan kaum Muslimin atas kerugian orang lain; tidak pula itu dimaksudkan sebagai pemaksaan atas orang-orang tidak beriman ke dalam rangkulan Islam. Sebagaimana halnya, itu hanya dimaksudkan untuk pembangunan dunia demi perkembangan spiritual manusia sebaik mungkin. Karena menurut ajaran Islam, pengetahuan moral secara otomatis memaksakan tanggung jawab moral atas manusia. Pemisahan platonik melulu antara baik dan buruk tanpa desakan untuk mengangkat kebaikan dan memberantas keburukan adalah immoralitas kasar dalam sendirinya. Dalam Islam moralitas hidup dan mati bersama perjuangan manusia untuk menegakkan kejayaan moralitas itu di muka bumi.

Sumber: media.isnet

3 Yang Berkomentar:

Rizky2009 4 Oktober 2009 08.21  

pertamax....

puanjang ya postingan kamu, mantab dah

Zippy 4 Oktober 2009 08.22  

Wah, gak bisa banyak komen ni sob.
Non muslim, jadi gak bisa ikut campur lebih jauh, hehehehe...
Ya..hanya bisa bilang agar damai aja deh, gak ada perang2'an, apalagi perang yang berbau agama.

Rihar Diana(dhana) 8 Oktober 2009 00.43  

singkat wae dalam benakku pacaran bikin mumet,karena prinsipku jalan pernikahan tidak harus berpacaran he...he...wes ngene disek yo..thnxs..

Posting Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar Sobat Disini., Apapun Komentar Sobat Akan Rival Hargai...,
Ingat No Spam, No Porn...,

Coba Widget

Coba Widget

Photobucket



Blogger Template by Free Blogger Template by Ardi33.
Art Maker 1 Edited by Ardi33.Web.id